Jumat, 21 Oktober 2016

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL DAN INDIVIDU


ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah ilmu budaya dan sosial
dengan dosen Dedy Kusnaendar, M.Si
oleh 
saya sendiri
Description: C:\Users\Planet Setup\Desktop\ykcgAAAABJRU5ErkJggg==.png

TEKNIK PERMINYAKAN
AKADEMI MIGAS BALONGAN
INDRAMAYU

2016

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada hakikatnya manusia dapat dilihat sebagai makhluk pribadi, sedangkan disisi lain dipandang sebagai makhluk social. Paham individualism memandang bahwa manusia semata mata sebagai makhluk pribadi mengesampingkan kodratnya sebagai makhluk sosial. Sebaliknya pandangan sosialisme menyatakan manusia adalah makhluk sosial. Sedangakan pandangan Negeri Indonesia menyatakan bahwa manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk social.
Sebagai makhluk sosial, manusia akan berinteraksi dengan manusia lain sebagai wujud interaksi sosial. Sebagai makhluk pribadi dan sosial manusia akan mengahadapi dilemma dalam rangka pemenuhan antara kepentingan diri dan kepentingan masyarakat.
 Dalam makalah ini akan diuraikan dan membahas tentang hakikat manusia sebagai makhluk individu dan sosial, fungsi dan peranan manusia sebagai makhluk individu dan sosial, dan dilemma antara kepentingan individu dan masyarakat.


1.2  Rumusan Masalah
a.       Apa definisi dari manusia; manusia sebagai makhluk individu; dan manusia sebagai makhluk sosial ?
b.      Bagaimana hakekat manusia sebagai makhluk individu dan sosial berlangsung ?
c.       Mengapa manusia sebagai makhluk individu dan sosial memerlukan adanya interaksi sosial dan sosialisasi dalam kehidupan sehari hari ?
d.      Bagaimana peranan manusia sebagai makhluk individu dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat sehari hari ?

1.3  Tujuan dan Manfaat
Tujuan Pembuatan makalah :
1.      Menganalisa hakikat manusia sebagai makhluk individu dan sosial
2.      Memerinci kepentingannya sebagai makhluk individu dan sosial 
3.      Mengemukakan perannya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
4.      Menunjukan interaksi sosial yang terjadi di masyarakat

Manfaat Pembuatan Makalah :
1.      Memberikan pemahaman mengenai hakikat manusia sebagai makhluk individu dan sosial
2.      Menyampaikan potensi adanaya interaksi manusia sebagai makhluk individu dan  sosial terhadap lingkungan hidup bermasyarakat



















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian manusia sebagai Makhluk Individu dan sosial
A. Pengertian manusia sebagai Makhluk Individu
Individu berasal dari bahasa latin individium yang artinya tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang di pakai untuk menyatakan satu kesatuan paling kecil dan terbatas. Menurut pendapat Dr. A. Lysen , kata individu bukan berarti manusia secara keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan terbatas, yaitu perseorangan manusia.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, serta unsur raga dan jiwa. Secara biologis, manusia lahir dengan kelengkapan fisik, tidak berbeda dengan makhluk hewani. Namun, secara rohaniah sangat berbeda dengan makhluk hewani apapun. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya.
Setiap manusia memiliki perbedaan.hal itu dikarenakan manusia memiliki karakteristik sendiri.ia memiliki sifat, watak, keinginan, kebutuhan, dan cita-cita yang berbeda satu sama lainya karena Tuhan memciptakan manusia dengan ciri dan karakteristik yang berbeda-beda,setiap orang berbeda walaupun kembar dalam hal fisik pun. Jadi, meskipun banyak persamaan hakiki antarindividu, tetap tidak ada dua individu yang sama.
Pada dasarnya, kegiatan atau aktivitas seseorang ditujukan untuk memenuhi kepentingan diri dan kebutuhan diri. Sebagai makhluk dengan kesatuan jiwa dan raga, maka aktivitas individu adalah untuk memenuhi kebutuhan baik kebutuhan jiwa, rohani atau psikologis, serta kebutuhan jasmani atau biologis. Pemenuhan kebutuhan tersebut adalah dalam rangka menjalani kehidupannya.
Pandangan yang mengembangkan pemikiran bahwa manusia pada dasarnya adalah individu yang bebas dan merdeka adalah paham individualism. Paham individualism menekankan pada kekhususan, martabat, hak, dan kebebasan orang per orang. Manusia sebagai individu yang bebas dan merdeka tidak terikat apa pun dengan masyarakat ataupun Negara. Manusia bias berkembang dan sejahtera hidupnya serta berlanjut apabila dapat bekerja secara bebas dan berbuat apa saja untuk memperbaiki dirinya sendiri.

B.  Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia sebagai individu ternyata tidak mampu hidup sendiri. Manusia dalam menjalani kehidupannya akan senantiasa bersama dan bergantung pada manusia lainnya. Manusia saling membutuhkan dan harus bersosialisasi dengan manusia lain. Hal ini disebabkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dapat memenuhinya sendiri. Ia akan bergabung dengan manusia lain membentuk kelompok-kelompok dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan tujuan hidup.
Sejak manusia dilahirkan ia membutuhkan pergaulan dengan orang lain terutama dalam hal kebutuhan makan dan minum. Pada usia bayi, ia sudah menjalin hubungan terutama dengan ayah dan ibu, dalam bentuk gerakan, senyuman, dan kata-kata. Pada usia 4 tahun, ia mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya dan melakukan kontak sosial. Pada usia-usia selanjutnya, ia terikat dengan norma-norma pergaulan dengan lingkungan yang semakin luas.
Manusia sejak lahir dipelihara dan dibesarkan dalam suatu masyarakat terkecil yaitu keluarga. Keluarga terbentuk karena adanya pergaulan antaranggota sehingga dapat dikatakan bahwa berkeluarga merupakan kebutuhan manusia. Esensinya, manusia memerlukan orang lain atau hidup dalam kelompoknya.
Dalam sejarah perkembangan manusia tidak terdapat seorang pun yang hidup menyendiri, terpisah dari kelompok manusia lainnya. Hidup menyendiri, terlepas dari pergaulan masyarakat hanya mungkin terjadi dalam dongeng belaka (seperti Tarzan, Robinson Crusoe), namun dalam kenyataannya, hal itu tidak mungkin terjadi.
Aristoteles ( 384-322 SM ) seorang ahli filsafat Yunani kuno menyatakan dalam ajarannya, bahwa manusia adalah zoon politicon artinya bahwa manusia itu sebagai makhluk social. Manusia itu sebagai makhluk, pada dasarnya selalu ingin bergaul dalam masyarakat. Karena sifatnya yang ingin bergaul satu sama lain, maka manusia disebut sebagai makhluk social. Manusia lahir, hidup berkembang dan meninggal dunia di dalam masyarakat. Sebagai individu, manusia tidak dapat mencapai segala sesuatu yang diinginkan dengan mudah tanpa bantuan orang lain.
Adapun yang menyebabkan manusia selalu hidup bermasyarakat antara lain karena adanya dorongan kesatuan biologis yang terdapat dalam naluri manusia, misalnya :
a.       Hasrat untuk memenuhi keperluan makan dan minum
b.      Hasrat untuk membela diri
c.       Hasrat untuk mengadakan keturunan
Kebutuhan akan makanan dan minuman termasuk kebutuhan primen untuk segala makhluk hidup baik hewan maupun manusia. Dalam usaha untuk mendapatkan keperluan hidupnya manusia perlu bantuan orang lain. Hidup sendiri akan menimbulkan kesulitan. Setiap usaha akan lebih mudah bila dikerjakan bersama-sama.
Dalam kenyataannya kita meihat orang memburu hewan, menangkap ikan, bercocok tanam, dan sebagainya dilakukan secara bersama-sama. Sejak manusia dilahirkan, ia mempunyai dua keinginan pokok yaitu :
a.       Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia di sekelilingnya
b.      Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
Paham yang mengemabngkan pentingnya aspek social kehidupan manusia adalah sosialisme. Sosialisme memberi resksi lebih pada manusia sebagai makhluk sosial. Sosialisme merupakan reaksi atas sistem liberalism yang dilahirkan oleh paham individualism. Adanya persaingan bebas dalam kapitalisme akan menindas orang-orang yang tidak memiliki modal dan orang-orang miskin. Dalam sistem ekonomi sosialis, setiap orang memiliki kewajiban memberi kepada masyarakat, dan masyarakat berhak menerima hasilnya sesuai dengan karyanya.
Namun, sosialisme dalam bentuk ekstrem dapat berkembang kearah komunisme. Dalam komunisme, hak milik individu dihapuskan, diganti menjadi kepemilikan bersama. Komunisme berpandangan bahwa semua orang mendapatkan apa yang sesuai dengan kebutuhannya. Walaupun begitu, baik sosialisme maupun komunisme bertujuan sama, yaitu ingin membentuk masyarakat sosialis.
Perbedan antara sosialisme dan komunisme terletak pada cara yang digunakan untuk mengubah masyarakat kapitalis liberal menjadi masyarakat sosialis. Paham sosialisme berpendapat bahwa perubahan dapat dilakukan dengan cara-cara damai dan demokratis, sedangkan komunisme berpendapat bahwa perubahan masyarakat sosialis harus dilakukan dengan cara revolusi, yaitu menghancurkan system kapitalisme liberal. Untuk itu, diperlukan pemerintahan dictator proletariat dalam masa transisi perubahan masyarakat.

2.2 Hakikat dan habitat manusia sebagai makluk individu dan sosial
            Unsur-unsur hakikat manusia terdiri dari hal-hal berikut.
1.      Susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga
2.      Sifat kodrat terdiri atas makhluk individu dan sosial
3.      Kedudukan kodat terdiri atas makhluk sendiri dan makhluk tuhan.

Berdasarkan pembedaan demikian maka manusia sebagai nmakhluk individu dan sosial adalah hakikat manusia berdasarkan sifat-sifat kodrat yang melekat pada dirinya. Berdasarkan unsur hakikat manusia diatas, Notonagoro (1975) mengatakan bahwa sebagai makhluk individu dan makhluk sosial merupakan sifat kodrat dai manuia.dan Frans Magnis Suseno (2001) menyatakan bahwa manusia adalah individu secara hakiki bersifat sosial.[1]
Adapun tempat atau habitat manusia sebagai makhluk individu artinya manusia sebagai makhluk hidup atau makhluk individu maksudnya tiap manusia berhak atas milik pribadinya sendiri dan bisa disesuaikan dengan lingkungan sekitar. Manusia individu adalah subyek yang mengalami kondisi manusia. Ini diikatkan dengan lingkungannya melalui indera mereka dan dengan masyarakat melalui kepribadian mereka, jenis kelamin mereka serta status sosial.
Selama kehidupannya, ia berhasil melalui tahap bayi, kanak-kanak, remaja, kematangan dan usia lanjut. Deklarasi universal untuk hak asasi diadakan untuk melindungi hak masing-masing individu. Manusia juga sebagai mahkluk individu memiliki pemikiran-pemikiran tentang apa yang menurutnya baik dan sesuai dengan tindakan-tindakan yang akan diambil.
Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisasi. Bersosialisasi disini berarti membutuhkan lingkungan sosial sebagai salah satu habitatnya maksudnya tiap manusia saling membutuhkan satu sama lainnya untuk bersosialisasi dan berinteraksi.  Manusia pun berlaku sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya dengan lingkungan dan tempat tinggalnya.Manusia bertindak sosial dengan cara memanfaatkan alam dan lingkungan untuk menyempurnakan serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya demi kelangsungan hidup sejenisnya.[2]

2.3 Interaksi Sosial dan Sosialisasi dalam Kehidupan Manusia
A. Interaksi Sosial
         Hubungan sosial atau interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu yang lain, saling mempengaruhi timbal balik dan didasarkan pada kesadaran untuk saling tolong menolong.seorang melakukan hubungan sosial secara naluri di dorong oleh beberapa faktor, baik dari dalam maupun dari luar dirinya

Faktor internal terjadinya hubungan sosial adalah sebagai berikut :
a.       Keinginan untuk meneruskan atau mengembangkan keturunan dengan melalui perkawinan antara dua orang yang berlainan jenis saling tertarik dan berinteraksi
b.      Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena manusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhanya
c.       Keinginan untuk mempertahankan hidup terutama menghadap serangan dari apapun.
d.      Keinginan untuk melakukan komunikasi dengan sesama

Faktor eksternal terjadinya hubungan sosial sebagai berikut :
1.   Simpati
simpati menjadi pendorong yang kuat pada diri seseorang untuk melakukan komunikasi interaksi sehingga terjadi pertukaran/nilai pendapat.
2.   Motivasi
motivas muncul biasanya karena rasionalitas, seperti motif ekonomis, motif popularitas, atau politik.motivasi juga dapat muncul dari pengaruh lain.
3.   Sugesti
pengaruh sugesti ini muncul tiba tiba dan tanpa adanya pemikiran untuk mempertimbangkan terlebih dahulu.sugesti akan mendorong individu untuk melakukan suatu interaksi social
4.   Imitasi
imitasi muncul karena minat, perhatian atau sikap mengagumi terhadap orang lain  yang dianggap cocok atau sesuai
5.   Identitas
suatu dorongan untuk menjadikan dirinya idntik atau sama dengan orang lain. Identifikasi karena terikat oleh suatu aturan yang mngharuskan seseorang menyesuaikan diri seperti orang lain,atau atas dasar kesenangan sehingga tertarik menyesuaikan diri.

B. Sosialisasi dalam Kehidupan Manusia sebagai Makhluk  Individu dan Makhluk   Sosial
Menurut Berger sosialisasi sebagai “a process by which a child learns to be a participant member of society” yaitu suatu proses dimana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Dalam hal ini jelas dikatakan bahwa proses sosialisasi dimulai dari sejak anak usia dini hingga usia seseorang berakhir. Proses sosialisasi terus dilakukan selama kita masih hidup dan masih membutuhkan orang lain.


Jadi dapat disimpulkan bahwa sosialisasi adalah proses dimana seseorang dapat berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakat yang ada disekitarnya.
Sosialisasi dilakukan oleh semua individu yang bersosial. Ada beberapa pihak yang membantu melaksanakan sosialisasi yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa dan sistem pendidikan. Peran agen utama yaitu orangtua dan keluarga. Orangtua merupakan peran penting bagi anak untuk bersosialisasi. Orang tua merupakan awal dimana kita melakukan interaksi dengan dunia pertama kita. Keluarga merupakan pendidik yang pertama dan yang paling utama dalam hal pertumbuhan dan perkembangan anak begitupun dengan perkembangan sosialisasi mereka. Maka orang tua hendaknya mengoptimalkan proses sosialisasi pertama untuk anak. Agen yang kedua yaitu kelompok bermain. Kelompok bermain juga tidak kalah pentingnya dengan orang tua. Melalui kelompok bermain anak mulai bisa belajar bersosialisasi secara umum. Bagaimana ia berinteraksi dengan teman sebayanya, bagaimana ia menyelesaikan suatu permasalahan dalam berinteraksi dengan temannya dan juga bagaimana ia bisa memilih teman yang sejalan dengannya. Agen yang ketiga yaitu media massa. Media massa sangat erat kaitannya dengan teknologi yang makin maju dan berkembang. Media massa pun sangat penting untuk sosialisasi dengan hal-hal yang terjadi disekitar kita.
Bentuk sosialisasi dibedakan menjadi dua yaitu :
a.       Sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dilakukan oleh seluruh individu sejak ia kecil. Sosialisasi primer tidak ada proses identifikasi dan pada masa inilah dunia pertama anak terbentuk. Sosialisasi primer berakhir ketika konsep tentang orang lain pada umumnya telah terbentuk dan tertanam dalam kesadaran individu. Pada titik ini ia merupakan anggaota efektif masyarakat.
b.      Sosialisasi sekunder adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh individu terhadap lingkungan di luar keluarganya. Sosialisasi sekunder menjadi proses lanjutan dari sosialisasi primer yang telah dilakukan. Dalam hal ini, yang menentukan hasil dari proses sosialisasi ini adalah lingkungan, seperti sekolah, teman bermain atau teman sebaya, masyarakat dan sebagainya. Itu sebabnya sangat penting untuk memilih lingkungan yang baik bagi proses sosialisasi anak, karena lingkungan akan memberi dampak besar bagi kepribadian individu.
Pada dasarnya ada dua pola sosialisasi, yaitu :
Sosialisasi menggunakan pola represi menekankan pada penggunaan hukuman atau kekerasan apabila terdapat dan melakukan kesalahan. Adapun ciri-ciri lain dalam penggunaan proses represi yaitu penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan, penekanan terhadap orang tua, penekanan terhadap komunikasi satu arah non verbal dan berisi perintah, sosialisasi terhadap orang tua dan keinginan orangtua dan lain-lain.
Sosialisasi secara partisipasi merupakan pola yang didalamnya anak diberi imbalan ketika ia berlaku baik , hukuman dan imbalan berupa simbol, anak diberi kebebasan, komunikasi bersifat lisan, anak menjadi pusat sosialisasi, kebutuhan dianggap sangat penting dan lain sebagainya.

2.4 Peran Manusia Sebagai Makhluk Sosial dan Individu
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengahmanusia. Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
a.       Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b.      Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
c.       Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d.      Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

2.5 Peran Manusia Sebagai Mahkluk Spiritual
Secara fitrah manusia menginginkan “kesatuan dirinya” dengan Tuhan, karena itulah pergerakan dan perjalanan hidup manusia adalah sebuah evolusi spiritual menuju dan mendekat kepada Sang Pencipta. Tujuan mulia itulah yang akhirnya akan mengarahkan dan mengaktualkan potensi dan fitrah tersembunyi manusia untuk digunakan sebagai sarana untuk mencapai “spirituality progress”.
Di masa modern sekarang agama adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa lupakan, bahkan tidak sesaat-pun manusia mampu meninggalkan agamanya, yang mana agama adalah pandangan hidup dan praktik penuntun hidup dan kehidupan, sejak lahir sampai mati, bahkan sejak mulai tidaur sampai kembali tidur agama selalu akan memberikan bimbingan, demi menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat. Ponsel yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarkat Indonesia bisa menjadi alat bantu untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan melalui fitur-fitur spiritual.
Maraknya penggunaan fitur spiritual ini sebenarnya tak hanya merebak di Indonesia. Menurut Craig Warren Smith, Senior Advisor University of Washington’s Human Interface Technology Laboratory, spiritual computing telah ada di negara-negara lain, seperti penggunaan fitur spiritual untuk umat Budha. Menurut Craig, nantinya fitur spritual akan menjadi faktor penting dalam keagamaan.
Berdasarkan penelitian beberapa ahli dari Georgia Institute of Technology Atlanta dan Computer Science & Engineering, University of Washington tentang Sacred Imagery in Techno-Spiritual Design, biasanya orang memakai fitur spiritual semacam ini untuk mendukung aktivitas ibadah mereka. Misalnya Gospel Spectrum, sebuah sistem visualisasi informasi yang memungkinkan penggunanya mempelajari Bible secara visual. Belum lagi fitur spritual untuk umat Budha dan sebagainya.
Salah satu contoh fitur spiritual yang dekat dengan masyarakat Indonesia saat ini adalah Athan Time. Aplikasi ini mengingatkan penggunanya untuk menjalankan solat lima waktu. Ini merupakan salah satu fitur yang dibuat untuk mendukung praktik techno-spiritual secara efektif. Selain itu, fitur ini juga berfungsi menghubungkan orang dengan pengalaman religius mereka.
Beberapa responden dari penelitian yang dilakukan oleh Susan P. Wyche, Kelly E. Caine, Benjamin K, Davison, Shwetak N. Patel, Michael Arteaga, dan Rebecca E. Grinter menyebutkan, penggunaan fitur spiritual Islami, membuat mereka “melihat dan merasakan” spiritualitas yang ada.
Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi. Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :
1.      Kebutuhan Fisiologis. Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2.      Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan. Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
3.      Kebutuhan Sosial. Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4.      Kebutuhan Penghargaan. Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
5.      Kebutuhan Aktualisasi Diri. Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya
6.      Menjelang akhir hayatnya, Abraham Maslow menyadari dan menemukan adanya kebutuhan yang lebih tinggi lagi pada sebagian manusia tertentu, yaitu yang disebut sebagai : kebutuhan transcendental. Berbeda dengan kebutuhan lainnya yang bersifa horizontal (berkaitan hubungan antara manusia dengan manusia), maka kebutuhan transcendental lebih bersifat vertikal (berakaitan dengan hubungan manusia dengan Sang Pencipta). Muthahhari, Seorang filsuf muslim dunia yang menghasilkan banyak karya filosofis berharga– pernah menyatakan bahwa manusia itu sejati dan senyatanya adalah sosok makhluk spiritual.
Maka tak aneh kalau kemudian muncul istilah Spritual Quantient (SQ) yang membahas ‘siapa saya’. Istilah SQ menjadi populer melalui buku SQ: Spritual Quotient,The Ultimate Intelligence (London, 2000) karya Danah Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. SQ diklaim memiliki dasar dan bukti ilmiah. Pakar neurosains pada tahun 1990-an menemukan adanya “Titik Tuhan” atau God Spot di dalam otak. Titik Tuhan ini adalah sekumpulan jaringan saraf yang terletak di daerah lobus temporal otak, bagian yang terletak di balik pelipis. Dari eksperimen yang menggunakan sensor magnetis ditemukan adanya korelasi antara aktivitas berpikir tentang hal sakral seperti kedamaian, cinta, kesatuan, Tuhan dengan aktivitas magnet pada lobus temporal otak.













BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
  1. Manusia sebagai mahluk individu artinya manusia merupakan satu kesatuan antara jasmani dan rohani. Seseorang dikatakan sebagai individu apabila kedua unsur tersebut menyatu dalam dirinya.
  2. Selain sebagai makhluk individu juga, manusia adalah makhluk sosial. Salah satunya dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain yang satu sama lain saling membutuhkan. Untuk menjadi pribadi yang bermakhluk sosial setiap individu dihadapkan dengan sosialisasi, yaitu suatu proses  dimana seseorang belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
  3. Adapun yang dimaksud masyarakat setempat atau komunitas berbeda dengan masyarakat. Masyarakat sifatnya lebih umum dan lebih luas, sedang masyarakat setempat lebih terbatas dan juga dibatasi oleh kawasan tertentu. Namun ditinjau dari aktivitas hubungannya dan persatuannya lebih erat pada masyarakat setempat dibandingkan dengan masyrakat.
  4. Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial selalu dihadapkan oleh dua kepentingan yaitu kepentingan individu dan sosial. Persoalan pengutamaan kepentingan individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang berkembang yaitu pandangan individualisme dan pandangan sosialisme. Sebetulnya kedua kepentingan tersebut tidak dapat dipisahkan dan bukanlah pilihan.






3.2   Saran
          Sejalan dengan kesimpulan diatas, penulis merumuskan saran sebagai berikut.
  1. Setiap individu hendaknya sadar bahwa mereka adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, sehingga mereka mampu menghargai satu sama lain dalam arti tidak mengambil hak orang lain ketika bertindak sebagai makhluk sosial dan sebaliknya.
  2. Dalam upaya pendidikan hendaknya para pendidik harus menghormati keindividualitasan, karakteristik, keunikan dan kepribadian anak. pendidikan tidak boleh memaksa anak untuk mengikuti dan menuruti segala kehendaknya, karena dalam diri anak ada suatu prinsip pembentukan dan pengembangan yang ditentukan oleh dirinya sendiri.
  3. Pembentukan proses sosialisasi pada anak dalam interaksi sosial hendaknya harus didukung oleh semua pihak. Keluarga, lingkungan masyarakat juga tenaga pendidik harus membantu menstimulasinya.
  4. Kesempatan berinteraksi akan sangat dibutuhkan oleh anak dalam bersosialisasi dengan orang lain. Hendaknya kita sebagai calon guru dan calon ibu harus sadar bahwa pemberitahuan, pemberian contoh dan pembiasaan sangat penting dan dibutuhkan dalam bersosialisasi dengan orang lain dimasyarakat.


[1] Sumber: buku ilmu sosial & budaya dasar (drs.Herimanto, M.Pd., M.si, Winarno, S.Pd., M.Si)
[2] Sumber: Diposkan 27th March 2012 oleh tantijs blog's


BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
  1. Manusia sebagai mahluk individu artinya manusia merupakan satu kesatuan antara jasmani dan rohani. Seseorang dikatakan sebagai individu apabila kedua unsur tersebut menyatu dalam dirinya.
  2. Selain sebagai makhluk individu juga, manusia adalah makhluk sosial. Salah satunya dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain yang satu sama lain saling membutuhkan. Untuk menjadi pribadi yang bermakhluk sosial setiap individu dihadapkan dengan sosialisasi, yaitu suatu proses  dimana seseorang belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
  3. Adapun yang dimaksud masyarakat setempat atau komunitas berbeda dengan masyarakat. Masyarakat sifatnya lebih umum dan lebih luas, sedang masyarakat setempat lebih terbatas dan juga dibatasi oleh kawasan tertentu. Namun ditinjau dari aktivitas hubungannya dan persatuannya lebih erat pada masyarakat setempat dibandingkan dengan masyrakat.
  4. Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial selalu dihadapkan oleh dua kepentingan yaitu kepentingan individu dan sosial. Persoalan pengutamaan kepentingan individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang berkembang yaitu pandangan individualisme dan pandangan sosialisme. Sebetulnya kedua kepentingan tersebut tidak dapat dipisahkan dan bukanlah pilihan.


3.2   Saran
          Sejalan dengan kesimpulan diatas, penulis merumuskan saran sebagai berikut.
  1. Setiap individu hendaknya sadar bahwa mereka adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, sehingga mereka mampu menghargai satu sama lain dalam arti tidak mengambil hak orang lain ketika bertindak sebagai makhluk sosial dan sebaliknya.
  2. Dalam upaya pendidikan hendaknya para pendidik harus menghormati keindividualitasan, karakteristik, keunikan dan kepribadian anak. pendidikan tidak boleh memaksa anak untuk mengikuti dan menuruti segala kehendaknya, karena dalam diri anak ada suatu prinsip pembentukan dan pengembangan yang ditentukan oleh dirinya sendiri.
  3. Pembentukan proses sosialisasi pada anak dalam interaksi sosial hendaknya harus didukung oleh semua pihak. Keluarga, lingkungan masyarakat juga tenaga pendidik harus membantu menstimulasinya.
  4. Kesempatan berinteraksi akan sangat dibutuhkan oleh anak dalam bersosialisasi dengan orang lain. Hendaknya kita sebagai calon guru dan calon ibu harus sadar bahwa pemberitahuan, pemberian contoh dan pembiasaan sangat penting dan dibutuhkan dalam bersosialisasi dengan orang lain dimasyarakat.

Kamis, 20 Oktober 2016

PENULISAN PROPOSAL


diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia,
Dosen Hadi Purnawan.
oleh
saya sendiri

Hasil gambar untuk logo akamigas

TEKNIK PERMINYAKAN
AKADEMI MIGAS BALONGAN
INDRAMAYU

2016/2017


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia tentang “Penulisan Proposal”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.
            Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Yth :
1. Bpk Hadi Purnawan selaku Dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia;
2. Orang tua kami yang telah membantu baik moril maupun materi;
3. Rekan-rekan satu kelompok yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. 
            Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari Dosen Mata Kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik  di masa yang akan datang.
                                    IndramayuSeptember 2016
                                                                                                           
                       
   Penyusun
  Kelompok 8








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................  i
DAFTAR ISI .................................................................................................  ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................  1
1.1 Latar Belakang ...............................................................................  1
1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................  2
1.3 Tujuan ............................................................................................  2
BAB II KAJIAN TEORI ..............................................................................  3
2.1 Hakikat Pengertian Proposal ...........................................................3
2.2 Ciri-ciri Proposal .............................................................................5
2.3 Manfaat Proposal .............................................................................7
2.4 Keunggulan Proposal dan Kelemahan Proposal...............................7
2.5 Tujuan Penyusunan Proposal ...........................................................8
2.6 Syarat-syarat Menyusun Proposal ....................................................8
2.7 Bagian-Bagian yang Harus Ada Dalam Proposal .......................................9
2.8  Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyusun Proposal ..........11
2.9 Ragam Proposal ...............................................................................13
BAB III PENUTUP ......................................................................................  17
3.1 Kesimpulan ....................................................................................  17
3.2 Saran............................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................19



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada dasarnya setiap kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi tujuan yang telah disepakati bersama. Dalam kegiatan itu tentunya ada hal yang harus melengkapi sebagai prasyarat yang bisa memudahkan dalam menjalankan kegiatan yang akan dilaksanakan. Hal itu disebut sebagai proposal. Proposal dibuat sebagai rancangan atau rencana terhadap kegiatan yang akan dijalankan nantinya walaupun terkadang dari perencanaan tersebut masih ada beberapa yang nanti kemungkinan kurang sesuai dengan apa yang dilakukan ketika dilapangan. Selain sebagai rancangan suatu kegiatan proposal juga merupakan sebuah tulisan yang dibuat oleh si penulis yang bertujuan untuk menjabarkan atau menjelasan sebuah tujuan kepada si pembaca (individu atau kelompok) sehingga mereka memperoleh pemahaman mengenai tujuan tersebut lebih mendetail. Diharapkan dari proposal tersebut dapat memberikan informasi yang sedetail mungkin kepada si pembaca, sehingga akhirnya memperoleh persamaan visi, misi, dan tujuan
Tetapi juga perlu di garis bawahi bahwa penulisan proposal hanya salah satu dari sekian banyak tahap perencanaan. Penulisan proposal adalah suatu langkah penggabungan dari berbagai perencanaan yang telah dibuat dalam tahap-tahap sebelumnya. Sehingga sebenarnya proposal memang hanya sekedar rancangan yang tidak begitu mendetail terhadap pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa hakikat pengertian proposal?
2.      Apa saja ciri-ciri proposal?
3.      Apa saja manfaat atau kegunaan proposal?
4.      Apa tujuan penyusunan proposal?
5.      Syarat apa yang harus dipenuhi dalam menyusun proposal yang baik?
6.      Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menyusun proposal?
7.      Apa saja ragam proposal?

1.3  Tujuan
1.      Mengetahui hal-hal apa yang bisa mendasari dibentuknya proposal.
2.      Memahami hakikat dan pengertian dari proposal.
3.      Mengetahui ciri-ciri yang dapat membedakan proposal dengan tulisan lain.
4.      Mengetahui manfaat dibuatnya proposal.
5.      Mengetahui tujuan dibuatnya proposal.
6.      Mengetahui syarat apa saja yang harus dipenuhi dalam menyusun proposal.
7.      Serta dapat mengetahui ragam proposal.
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Hakikat Pengertian Proposal
Dalam kehidupan  sehari-hari, kita sering mengadakan suatu acara atau kegiatan. Dalam  melakukan suatu acara tersebut kita perlu merencanakannya terlebih dahulu. Rencana tersebut disebut proposal. proposal adalah sebuah tulisan yang dibuat oleh si penulis yang bertujuan untuk menjabarkan atau  menjelasan sebuah rencana dan  tujuan suatu kegiatan kepada pembaca. Diharapkan  proposal tersebut dapat memberikan  informasi yang detail kepada pembaca, sehingga akhirnya memperoleh persamaan visi, misi, dan tujuan. Berdasarkan kajian etimologis, proposal berasal dari kata bahasa inggris propose yang berarti mengusulkan, mengemukakan, atau menawarkan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), proposal berarti rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja.
Pengertian proposal bila dikaji dengan kajian praktis maka akan menghasilkan beberapa pendapat tentang pengertian proposal. Berikut ini dibahas beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian proposal. Menurut Rieefky, proposal adalah  suatu bentuk rancangan  kegiatan yang dibuat dalam bentuk formal dan standar. Senada dengan pendapat di atas,Nenghepi  berpendapat bahwa proposal adalah rancangan kerja yang disusun secara sistematis dan terinci untuk suatu kegiatan yang ingin dilakukan. Rieefky juga berpendapat bahwa penulisan proposal adalah suatu langkah penggabungan dari berbagai perencanaan yang telah dibuat dalam tahap¬tahap sebelumnya. Proposal dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “Propos” yang berarti mengusulkan. Secara umum proposal berarti suatu konsep pemikiran dalam bentuk tulisan tentang sesuatu proyek kegiatan yang akan dilaksanakan.
Untuk lebih memahami pengertian proposal kita bisa membandingkan pengertiannya dengan proposal  dalam dunia ilmiah, proposal adalah suatu rancangan desain penelitian (usulan penelitian) yang akan dilakukan oleh seorang peneliti tentang suatu bahan penelitian. Proposal merupakan rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja. Menurut Hasnun Anwar (2004:73), proposal adalah rencana yang disusun untuk kegiatan tertentu. Jay (2006:1)  menyatakan proposal adalah alat bantu  menejemen standar agar manajemen dapat berfungsi secara efisien. Menurut Hadi (http://pustaka.ac.id) menyatakan proposal adalah suatu usulan tersruktur untuk agenda kerjasama bisnis antar lembaga, perusahaan, usulan kegiatan sampai pada pemecahan masalah.
Keraf (2001:302) mempunyai pendefinisian  yang agak berbeda dengan pendapat-pendapat diatas  yaitu  proposal adalah suatu saran atau permintaan kepada seseorang  atau suatu badan untuk mengerjakan atau melakukan suatu  pekerjaan.
Proposal dalam dunia ilmiah (pendidikan) adalah suatu rancangan desain penelitian (usulan penelitian) yang akan dilakukan oleh seorang peneliti tentang suatu bahan penelitian. “Proposal penelitian” bagi seorang peneliti atau mahasiswa digunakan untuk membantu membuat penelitian (skripsi, tesis, disertasi). Penulisan proposal adalah suatu langkah penggabungan dari berbagai perencanaan yang telah dibuat dalam tahap-tahap sebelumnya.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan proposal adalah suatu rancangan kegiatan atau kerja yang disusun secara sistematis dan terperinci sesuai standar oleh seseorang atau sekelompok peneliti untuk diajukan kepada pihak yang dikehendaki dalam mendapatkan persetujuan maupun bantuan dalam penelitiannya.

2.2 Ciri-ciri Proposal
Adapun ciri-ciri proposal sebagai berikut      
1.      Proposal dibuat untuk meringkas kegiatan yang akan dilakukan.
2.      Proposal dibuat dengan singkat agar donatur atau pihak tertent mengetahui pokok isi acara yang akan diselenggarakan.
3.      Sebagai pemberitahuan pertama suatu kegiatan.
4.      Proposal seharusnya diberikan kepada donatur atau instansi terkait minimal satu bulan sebelum acara sebagai pemberitahuan kepada instansi  atau donatur tersebut.
5.      Berisikan tujuan-tujuan, latar belakang acara.
6.      Proposal disusun dengan tujuan-tujuan yang biasanya disesuaikan dengan latar belakang sebuah acara.
7.      Berupa lembaran-lembaran pemberitahuan yang telah dijilid yang nantinya diserahkan kepada yang penyelenggara acara.
8.      Proposal pada dasarnya berupa lembaran-lembaran yang berisi sebuah susunan acara atau kegiatan yang diserahkan penyelenggara kepada donatur.
9.      Salah satu ciri proposal adalah adanya pihak yang mengajukan. Pihak yang mengajukan tersebut sebagai pihak yang mengusulkan suatu rencana atau kegiatan.
10.  Adanya pihak yang menyetujui menjadi salah satu dari ciri dari proposal. Hal ini berkaitan dengan salah satu fungsi proposal yakni sebagai legalisasi suatu rencana kegiatan.
11.  Gambaran kegiatan disertakan dalam proposal berguna untuk memberikan informasi pada siapapun yang hendak ditunjukan proposal tersebut agar memiliki atau mengetahui apa yang sebenarnya keinginan atau maksud yang terkandung dalam proposal tersebut.
12.  Proposal mempunyai ciri persuasif yaitu dapat diartikan sebagai bentuk seni baik verbal maupun non verbal yang bertujuan untuk menyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pada waktu sekarang maupun yang akan datang.
13.  Proposal disusun sebelum membuat rencana kerja secara keseluruhan, ini bermaksud agar penerima mengetahui gambaran kegiatan secara keseluruhan kegiatan yang akan disetujuinya.
14.  Proposal bersifat bisnis, maksudnya proposal dibuat dengan tujuan untuk mengajukan kerjasama dan perjanjian atas suatu kegiatan.
15.  Proposal disusun harus mempunyai sasarn dan tujuan yang jelas agar proposal tersebut bisa diterima dan disetujui oleh pihak yang menerima proposal dalam mengadakan pertimbangan.

2.3 Manfaat Proposal
Adapun manfaat pembuatan proposal sebagai berikut.
1.      Menjadi rencana yang mengarahkan panitia dalam melaksanakan kegiatan tersebut.
2.      Menjelaskan secara tidak langsung kepada pihak-pihak yang ingin mengetahui kegiatan tersebut.
3.      Untuk meyakinkan para donatur atau sponsor agar mereka memberikan dukungan material maupun finansial dalam mewujudkan kegiatan yang telah direncanakan.
4.      Sebagai gambaran awal sebuah kegiatan.
5.      Sebagai alat untuk memperoleh persetujuan dari pihak berwenang.
6.      Sebagai alat pengontrol jalannya kegiatan.
7.      Sebagai alat evaluasi kegiatan.
8.      Sebagai salah satu alat untuk memperluan jaringan kerja dan komunikasi.

2.4 Keunggulan Proposal dan Kelemahan Proposal
      A. Keunggulan Proposal
Keunggulan proposal adalah sebagai berikut:
1.      Dapat menarik sponsor untuk memberikan sumbangan dana
2.      Dapat menjadi bukti legalitas
3.      Memperlancar dan mempermudah pelaksanaan kegiatan
4.      Memperkecil masalah yang timbul dalam suatu kegiatan
5.      Sebagai rancangan biaya
6.      Transparan, efektif, dan efisien
       B. Kelemahan Proposal
               Kelemahan proposal adalah sebagai berikut:
1.      Tidak memiliki kekuatan tanpa adanya juru bicara
2.      Memiliki tingkat kepercayaan yang rendah

2.5 Tujuan Penyusunan Proposal
1.      Menjelaskan secara tidak langsung kepada pihak-pihak yang ingin mengetahui kegiatan tersebut.
2.      Menjadi rencana yang mengarahkan panitia dalam melaksanakan kegiatan tersebut.
3.      Untuk menyakinkan para donator atau sponsor agar mereka memberikan dukungan meterial maupun finansial dalam mewujudkan kegiatan yang telah direncanakan.
4.      Mendapatkan persetujuan.
5.      Sebagai titik acuan.

2.6 Syarat-syarat Menyusun Proposal
Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam menyusun proposal yang baik
      sebagai berikut:
1.      Sistematis artinya proposal yang disusun harus berurutan secara sistematis menurut pola tertentu, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks agar efektif dan efisien
2.      Berencana artinya proposal tersebut dibuat secara sengaja dan telah dipikirkan langkah-langkah pelaksanaanya, serta mengacu pada tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan tersebut.
3.      Mengikuti konsep ilmiah artinya pengerjaan proposal mulai dari awal hingga akhir harus sesuai dengan cara-cara atau metode ilmiah yang sudah ditentukan.
4.      Jelas dan dapat dimengerti proposal yang dibuat harus jelas dan menggambarkan kegiatan yang kan dilaksanakan. Sehingga pihak penerima dapat mendapatkan gambaran jelas tentang kegiatan yang kan dilaksanakan tersebut.

2.7 Bagian-Bagian yang Harus Ada Dalam Proposal
                Adapun bagian-bagian dalam proposal meliputi:
1.      Waktu dan Tempat Pelaksanaan
                Harus dijelaskan waktu dan tempat dilaksanakannya kegiatan secara tepat dan jelas.
2.      Sasaran Kegiatan
Sasaran kegiatan yang merupakan objek yang menjadi  sasaran dari pelaksanaan kegiatan yang diajukan. Contoh dalam suatu kegiatan “LKMM”, sasaran kegiatannya adalah mahasiswa.
3.      Susunan Panitia
Susunan panitia merupakan pelaksana dari kegiatan yang diajukan. Harus disusun secara jelas dengan sistematika yang mudah dipahami. 
4.      Susunan Acara
Susunan acara merupakan pelaksanaan dari kegiatan yang diajukan. Harus disusun secara jelas dengan sistematika yang mudah  dipahami. Dengan minimal memuat unsur waktu, kegiatan, tempat dan penanggung jawab.
5.      Rancangan Anggaran Biaya
Merupakan rancangan perkiraan pengeluaran yang akan digunakan dalam kegiatan yang diajukan. Format anggaran terdiri atas, nomor urut, kebutuhan seksi, volume, dan jumlah (contoh terlampir)
6.      Penutup
Merupakan kata penutup dari proposal yang diajukan. Berisi kata harapan dan terima kasih.
7.      Pengesahan
Bagian pengesahan digabung dengan sub bab sebelumnya (tidak dibuat dalam lembar tersendiri) yang berisi :
a.               Tanggal pengesahan
b.      Instansi pelaksana kegiatan
c.       Pengesahan



A.          Judul Proposal
Judul proposal kegiatan dibuat singkat dan jelas. Harus dapat mengambarkan kegiatan yang akan dilaksanakan. Perlu diperhatikan pemenggalan kata yang tepat saat pergantian baris. Judul proposal diletakkan pada baris pertama sebelum latar belakang.
            B.  Latar Belakang
Latar belakang berisi hal hal yang melatarbelakangi keinginan atau daya  dorong untuk melaksanakan kegiatan yang diajukan.
            C.  Nama Kegiatan
Nama kegiatan merupakan nama kegiatan yang diajukan. Disajikan secara menarik untuk publikasi.
            D.  Tema Kegiatan
Tema kegiatan adalah tema dari pelaksanaan kegiatan yang diajukan.    Merupakan materi yang diangkat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
            E.  Tujuan Kegiatan
                 Tujuan kegiatan adalah hal yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan yang diajukan.
            F.  Landasan Kegiatan
Landasan  kegiatan adalah hal yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan yang diajukan.

2.8 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyusun Proposal
      Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun proposal sebagai berikut:
1.      Penempatan dan penggunaan kata yang tepat
2.      Menghindari penggunaan kalimat panjang dan bertele-tele
3.      Penggunaan paragraph
4.      Penggunaan ejaan
5.      Sebaiknya proposal ditulis dengan huruf yang mudah dibaca
6.      Tidak menyisakan kekosongan yang luas
7.      Menggunakan spasi 1.5
8.      Margin
9.      Diberi nomer halaman
10.  Format bullet atau angka dpat digunakan ketika ada tiga poin atau lebih dalam satu paragraph
11.  Menggunakan jenis kertas yang netral
12.  Sebaiknya tidak menggunakan kemasan yang tampak mahal
13.  Ejaan dan tatabahasa sebaiknya diperiksa ulang
14.  Sumber referensi luar harus disebut dengan tepat
15.  Proposal beserta doumen lain diletakkan dalam sebuah folder atau binder
16.  Sebaiknya disertakan surat pengantar
17.  Proposal perlu memiliki struktur dan logika yang jelas
18.  Penulisan kegiatan harus jelas
19.  Hasilnya harus dapat diukur/dinilai dengan angka-angka yang pasti
20.  Kirimkan proposal hanya jika telah pasti bahwa proposal telah memenuhi kriteria donator
21.  Mencantumkan nama organisasi dan tanggal pada setiap dokumen
22.  Jelaskan berapa banyak dana dan moril yang dibutuhkan dari donatur
23.  Jumlah dana yang diperlukan dalam kegiatan harus rasional
24.  Jelaskan tujuan jangka panjang organisasi dan tujuan jangka pendek dari kegiatan yang dilakukan
25.  Penyusunan proposal hendaknya menunjuk orang atau beberapa orang yang ahli dalam menyusun proposal, sebaiknya yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan yang diselenggarakan
26.  Penyusun proposal mempersiapkan bahan-bahan dan informasi yang diperlukan, yaitu berupa bahan-bahan hasil kesepakatan seluruh panitia
27.  Menyusun draft proposal dengan sistematis, menarik, dan realistis
28.  Proposal dibicarakan dalam forum musyawarah untuk dibahas, direvisi dan disetujui
29.  Dibuat proposal yang telah disempurnakan untuk dipergunakan dengan semestinya
30.  Proposal diperbanyak dan didistribusikan kepada pihak-pihak yang dituju, baikinternal maupun eksternal

2.9 Ragam Proposal
      Adapun ragam proposal sebagai berikut
      Berdasarkan bentuknya proposal dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Formal                          
  1. Non Formal
  1. Semi Formal
  1. Proposal riset/penelitian
  1. Proposal acara
  1. Proposal kerjasama
  1. Proposal permohonan dana
  1. Proposal kerja praktek
  1. Proposal usaha

Proposal berbentuk formal terdiri atas tiga bagian utama, yaitu bagian pendahuluan, isi proposal, dan bagian pelengkap penutup. Bagian pendahuluan terdiri atas: sampul dan halaman judul, surat pengantar (kata pengantar), ikhtisar, daftar isi, dan pengesahan permohonan. Bagian isi proposal terdiri atas: latar belakang, pembatasan masalah, tujuan ruang lingkup, pemikiran dasar (anggapan dasar), metodologi, fasilitas, personalia (susunan panitia), keuntungan dan kerugian, waktu, dan biaya. Sedangkan bagian pelengkap penutup berisi daftar pustaka, lampiran, tabel, dan sebagainya.
Proposal non formal merupakan variasi atau bentuk lain dari bentuk proposal formal karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu atau tidak selengkap seperti bentuk formal.
Proposal non formal biasanya disampaikan dalam bentuk memorandum atau surat sehingga sebuah proposal non formal harus selalu mengandung hal-hal berikut yaitu, masalah, saran, pemecahan, dan permohonan.
Proposal semi formal hampir sama dengan proposal non formal yaitu variasi atau bentuk lain dari bentuk proposal formal karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu atau tidak selengkap seperti bentuk formal.
Sedangkan ragam proposal berdasarkan tujuan penulisnya adalah sebagai berikut:
Adalah proposal yang bertujuan untuk mengajukan pengadaan riset maupun penelitian. Proposal penelitian terdiri atas, sebagai berikut:
a.       Proposal penelitian pengembangan
Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau teori untuk memecahkan suatu permasalahan.
b.      Proposal penelitian kajian pustaka
Proposal kajian pustaka menggunakan telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah dan pada dasarnya bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi dari berbgai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan cara baru dan atau untuk keperluan baru.
c.       Proposal penelitian kualitatif
Proposal penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif
d.      Proposal penelitian kuantitatif
Proposal kuantitatif pada dasarnya menggunakan suatu penelitian dengan pendekatan deduktif-induktif.
Adalah proposal yang bertujuan untuk mengajukan pengadaan suatu acara atau kegiatan.
Adalah proposal yang bertujuan untuk mengajukan usulan kerja sam dengan pihak atau lembaga lain.
Adalah proposal yang bertujuan untuk mengajukan permohonan atau permintaan dana.
Adalah proposal yang bertujuan untuk mengajukan permohonan kerja praktek.
Adalah proposal yang disusun oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mendirikan suatu usaha.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Hasnun, Anwar. 2007. Pedoman dan Petunjuk Praktis Karya Tulis. Absolut: Yogyakarta.
Jay, R. 2006. Menulis Proposal dan Laporan. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.
Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Ende: Nusa Indah.